Posts

Mencari Jatidiri Pendidikan

Minggu ini pemberitaan di berbagai media mengenai kelulusan dan ketidak lulusan SMA/K sekali lagi diwarnai histeria siswa yang lulus maupun yang tidak lulus. Yang lulus seperti biasa meneruskan tradisi warisan yang entah dimulai dari generasi tahun berapa sibuk mencorat coret baju dan melakukan konvoi di sepanjang jalan, sedangkan yang tidak lulus banyak yang menangis, menjerit, bahkan mengamuk dan menghancurkan sekolahnya. Ungkapan ekspresi yang begitu emosional, mungkin salah satu ekspresi paling emosional yang pernah sama2 kita rasakan dulu, perayaan kelulusan SMA.

Keputusan untuk merubah paradigma kelulusan tingkat menengah atas yang dimulai tahun 2003 ini sedikit banyak menimbulkan permasalahan di lingkungan praktis kependidikan, para guru dan kepala sekolah lebih sering harus memutar otak dan lebih menguatkan anak didik mereka untuk tetap optimis menghadapi ujian. Memang dengan adanya faktor resiko kegagalan yang mungkin didapat, baik siswa, guru maupun sekolah benar2 diuji dan ditelanjangi kualitasnya di hadapan publik. Sekolah2 non favorit mulai menunjukkan keseriusannya dengan menunjukkan kelulusan 100% dibanding sekolah2 elit dan favorit.
Namun sekali lagi kebijakan pelaksanaan UN ini sama sekali tidak mix n match dengan realitas pendidikan yang ada, tingkat kelulusan memang merupakan salah satu indikator keberhasilan sebuah lembaga pendidikan, tapi selalu saja nilai hitam diatas putih yang diperoleh dalam UN hanya berlaku untuk menjudge seorang siswa berhak meninggalkan sekolah dengan tegak atau tertunduk malu. Nilai UN praktis tidak diakui oleh hampir semua perguruan tinggi, masing2 perguruan lebih suka melakukan seleksi versi mereka sendiri untuk menyaring calon2 mahasiswanya. Penggunaan test masuk perguruan tinggi tetap harus dijalani lulusan SMA untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (Tidak jauh berbeda dengan dunia industri yang selalu melakukan 3-5 kali test untuk memastikan calon karyawannya benar2 memiliki kompetensi yang dibutuhkan, ini karena nilai2 yang dikeluarkan lembaga pendidikan formal tidak benar2 mencerminkan kemampuan seseorang.)

Dari kacamata universitas penggunaan test masuk selain untuk mendapatkan mahasiswa yang sesuai dengan kriteria mereka juga sebagai donatur2 awal untuk kelangsungan hidup universitas, calon mahasiswa akan membayar biaya test masuk universitas, jika lolos akan dihadapkan dengan rincian pembiayaan setoran awal, uang gedung dsb, jika tidak lolos??minimal cama sudah menambahkan anggaran universitas dari biaya mengikuti test. Dan ini artinya kelangsungan hidup universitas terjaga.

Jika kita menilik dari penggunaan kurikulum KBK di tahun 2004, KTSP pada 2006 penggunaan UN sebagai standarisasi penentuan kelulusan sama sekali tidak mengakomodir dua kurikulum ini. Basis Kompetensi yang dijadikan acuan kurikulum ini praktis tidak akan muncul dalam statistik angka2 yang ada dalam ijazah para siswa. Basis kompetensi yang ada hanya akan masuk dalam raport semester akhir yang tidak memiliki pengaruh sedikitpun terhadap kelulusan siswa.

SKKD (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) adalah kurikulum pengganti untuk KTSP dimana berisi kompetensi2 yang harus dikuasai para siswa selama mengikuti sebuah jenjang pendidikan, kelebihan dari SKKD adalah setiap sekolah dan guru memiliki kewenangan penuh untuk mengatur alokasi waktu pembelajaran tanpa pembatasan satuan kurikulum per semester. Sehingga sekolah yang mampu memenuhi standar kompetensi yang ada dalam waktu lebih singkat dapat memberikan pengayaan/materi2 tambahan untuk menambah pengetahuan siswanya. Sayangnya lagi2 karena faktor UN ini pada akhirnya kebanyakan SMK mempersingkat waktu pembelajaran produktif mereka untuk lebih memusatkan diri pada pengayaan pelajaran adaptif (MIPA, bahasa, dsb). Indikator skill yang seharusnya menjadi salah satu faktor penentu kelulusan di tingkat SMK pun akhirnya hanya menjadi nilai formalitas untuk meluluskan para siswa.

Apa yang dipelajari mahasiswa kependidikan mengenai teori2 metodologi pembelajaran, penelitian pendidikan, psikologi dan manajemen pembelajaran praktis hanya retorika saja, pembelajaran yang harus melibatkan aspek afektif, kognitif, psikomotorik ternyata divonis hanya menggunakan pendekatan kognitif saja. Faktor penunjang keberhasilan pendidikan tidak lagi berada pada kesatuan faktor pendidikan melainkan hanya diwakili oleh tingkat kelulusan siswa.

Tingkat kelulusan sebagai salah satu indikator utama keberhasilan suatu lembaga pendidikan hendaknya tidak menjadikan nilai saklek sebagai satu2nya cara negara untuk membuktikan pendidikan negeri ini telah berhasil, konyol karena semua materi pembelajaran yang disampaikan di lembaga pendidikan formal kita hampir tidak terpakai dalam dunia kerja. Dunia kerja lebih membutuhkan orang2 yang siap pakai yang memiliki kemampuan teori praktis, bukan teori dasar seperti yang kebanyakan diterapkan dalam dunia pendidikan, sebuah teori yang dipelajarkan harus bisa diimplementasikan dalam lingkungan keseharian bukan terbatas dalam penghafalan rumus, teori maupun konstanta semata. Pembelajaran konstekstual yang aperseptif, berbasis kompetensi, kecerdasan emosi dan lingkunganlah yang seharusnya ditekankan dan dijadikan sebagai solusi rendahnya kualitas pendidikan kita, bukan dengan jalan memaksakan sebuah nilai pasif sebagai acuan keberhasilan.

Sayangnya pembuat kebijakan pengadaan UN ini tidak menggubris protes dari pemberlakuan sistem ujian yang "tidak ada gunanya" ini. Tidak berguna di perguruan tinggi, dunia kerja maupun di lingkungan masyarakat. Sudahlah ndak perlu mendikotomikan SMK dan SMA hanya karena ada mata pelajaran produktif di SMK, ndak perlu ada mata pelajaran mulok, kesenian, olahraga, dsb. SMA/SMK cukup diajari 6 pelajaran saja selama 3 tahun, toh yang lain ga ada gunanya. njeh mboten Pak Menteri???

Kembali Ke Pohon

Klo inget jaman kita kecil rasanya menyenangkan sekali, banyak permainan rakyat yang sering kita mainkan bareng temen-temen. Mulai dari Hong-hongan (petak umpet), Blodosan (Gobak Sodor), Dir-diran(main kelereng), Sreng-srengan, Sundamanda, Gasingan atau sekedar Taplekan gambar wayang, buat yang cewek2 biasanya lebih suka main lompat tali, cublek cublek suweng, main kuwuk + bola pejal (aku lupa e nama permainannya).
Kadang main ke pekarangan cuma buat nyari gareng, ke sawah nyari jangkrik, belalang, kalo terpaksa nemu ular/tikus ya buru2 nyari gebuk.

Beberapa dari kita mungkin juga pernah memiliki benda2 pusaka mainan yang menangan klo diadu, layangan, kelereng, gasing, wayangan, dan bisa berharga mahal di kalangan temen2 seperjuangan.

Sifat dari semua permainan tersebut adalah permainan kolektif yang hanya bisa dimainkan dengan orang lain, ini berarti secara langsung melatih anak untuk bisa berkomunikasi dan besosialisasi dengan lingkungannya. Dari kacamata pendidikan permainan semacam ini lebih baik daripada sekedar main game, atau belajar dari menonton dan membaca saja, dalam permainan semacam ini aspek psikomotorik dan sosial anak berkembang lebih baik. Kalaupun ada efek buruknya mungkin karena anak jadi terbiasa bersentuhan dengan tanah gak heran ABG jaman dulu identik dengan penyakit kulit, gandongen, gudiken, boroken, tuma-nen, kulite ireng2. Toh itu bukan masalah karena begitu menginjak dewasa tetep aja laku di pasaran.

Sedangkan kalo pulang kampung sekarang miris ngeliat anak2 kecil sekarang, mulai dari hobby main PS, HP, fesbukan, ngalay lebay, biarpun dari segi fisik jelas peningkatannya pesat, ABG sekarang biarpun di desa tetep bening-bening, jeleknya mereka terlalu mudah untuk ikut mode2 gaul yang gak jelas, pokoknya harus tampil keren, perlente( padahal definisi gaul, keren, perlente aja mereka belum tentu ngerti) beda dengan simbak dan simbok mereka dulu yang masih berkutat dengan koreng dan borok yang jadi ornamen wajib di kakinya. Toh sebodo2nya orang dulu, untuk pekerjaan fisik masih bisa diandalkan beda dengan anak sekarang yang memang lebih banyak makan teori dan teknologi.

Segala sesuatu tentu memiliki dua sisi, teknologi dan modernitas mungkin memberikan akses lebih terhadap anak2 untuk mengenal dunia ini, tapi disisi lain juga penggunaan teknologi berlebihan juga menjadi hambatan bagi perkembangan psikomotorik anak. Karena itulah banyak guru sekarang yang justru menerapkan metode permainan rakyat di kelas untuk meningkatkan perkembangan psikomotorik anak yang kurang banyak berkembang dengan metode ceramah. Prinsip Back to Nature dan Kembali ke Pohon rasanya masih layak untuk dilaksanakan. Yang pasti aku setuju aja dengan yang Rinso bilang berani kotor itu baik.

Nyolong barang colongan

Nyolong (mencuri) dan barang colongan (barang hasil pencurian) kedua duanya kita tahu adalah hal yang haram di agama dilarang dalam hukum, lalu bagaimana jika kita menemukan orang yang nyolong barang colongan? lantas apa hukumannya?

Maling yang nyolong colongan maling lain akankah disebut maling? maling kuadrat? atau malah akan disebut pahlawan? setidaknya di sekitar kita sering mendengar berita2 yang serupa dengan kasus nyolong barang colongan, misalnya beberapa tempat di grebek karena memalsukan minuman keras, tempat yang lain terbukti mengedarkan pil koplo abal - abal, ada pabrik miras yang melaporkan gudangnya dibobol maling. Aku kadang geli sendiri klo denger berita2 kayak tadi, entah polisi mau menggunakan tuduhan apa dalam dakwaannya, penipuan?? narkoba?? apa dituduh melakukan pemasaran ilegal("ndak kasih amplop buat aparat")?? atau bahkan dituduh mengurangi omset pabrik2 haram yang legal??

Tapi yang paling gres jelas maling2 berseragam, dalam kasus terbaru meskipun baru sebatas "Terduga" duit 28 M gayus dikabarkan mampir ke kantong oknum2 polisi, jaksa dan hakim.


tidak sekedar menjadi sahara yang tak bermakna

empty....

lalu hilang tak berkawan

mengepul di selaput wajah rembulan

merajuk masuk di kedinginan malam

pelan berjingkat dalam langkah2 tak terekam

mengisinya dengan kristal2 embun dalam pekatnya kabut

menjadikannya tidak sekedar menjadi sahara yang tak bermakna

lalu aku berpaling padamu dan bertanya

siapakah aku?

Undang Undang Tuing Tuing

Hari demi hari semakin banyak Undang undang, peraturan yang mengatur tentang pelarangan, dilarang ini dilarang itu, dilarang bikin rumah di pinggir kali, dilarang jualan di pinggir jalan, dilarang ngerokok di pinggir sarana umum, dilarang kentut di pinggir temennya, agak ngejauh dikit gih....

Dilarang nyolong, dilarang mengkopi hak cipta, dilarang bikin ribut, dilarang corat coret, dilarang ga bayar pajak, dilarang korupsi, dan bla bla bla lainnya.

Sebetulnya ada baiknya negara memberikan rambu2 dalam pelarangan2 terhadap perilaku masyarakat yang mendiami wilayahnya, ini merupakan kewajiban negara sebagai pengontrol dan pengatur yang menjaga kelangsungan hidup berbangsa yang majemuk. Kita beruntung hari ini kita sudah memiliki Mahkamah Konstitusi tempat kita mengadu jika ada peraturan perundangan yang tidak sesuai dengan nilai2 masyarakat, membebani atau bahkan abu2 semata.

Harus kita sadari mengelola negara tidaklah mudah, untuk bisa membuat perundang2an yang sesuai dengan semua pola fikir 200 juta otak jelas tidak mungkin, karena itu perundangan cenderung lebih menitik beratkan pada aspek manfaat dalam komunitas yang luas. Hanya saja masih banyak Undang2 yang dibuat secara sembrono, Ketua MK Mahfud MD menyatakan banyak undang2 tidak menggunakan kaidah akademik dan tidak memenuhi studi kelayakan hanya sebagai bukti eksistensi seseorang pernah menjabat menjadi menteri. Jadi menteri ga kerasa menteri klo belum bikin UU/ ngutak atik UU menteri sebelumnya. Beberapa undang2 tumpang tindih dan kontradiktif satu sama lain, dan ini justru membuat rentan kelangsungan penegakan hukum di negeri kita karena para pengacara bisa dengan mudah menjadikan kontradiksi tersebut sebagai tameng untuk meloloskan kliennya.

Jika kita menilik pada pemberitaan beberapa waktu yang lalu kita melihat beberapa kali terjadi pro kontra yang cukup besar di masyarakat pada pengesahan UU Pornografi dan UU Sisdiknas. Pro kontra tersebut buatku adalah hal wajar, justru dengan adanya dua pihak yang berseberangan kita jadi bisa memahami lebih dalam apa pemaparan dan gambaran masing2 pihak, dan kita bisa mendapat pemahaman yang lebih kompleks dari berbagai sudut. Kelemahan pemerintah kita adalah meskipun puluhan undang2 sudah disahkan tapi pemerintah kurang tanggap untuk membuat peraturan pemerintah sebagai payung hukum pengimplementasian UU baru tersebut. Yang bikin kisruh ya begini ini, di tahun 2009 saja ada 52 produk UU yang disahkan 14% nya adalah perubahan dari UU yang sudah ada (http://setneg.go.id). Sementara ada 78 peraturan pemerintah di tahun yang sama namun hanya sedikit yang merupakan PP yang mengatur implementasi UU yang disahkan hanya PP perubahan dari PP beberapa tahun sebelumnya.

Masyarakat sendiri pada akhirnya apatis pada setiap penyelenggara negara yang ingin membuat UU, karena praktis implementasinya cuma hangat2 tahi ayam. Contoh UU HAKI dan ITE, ketika pertama kali digembar2kan yang terbayang adalah Indonesia bersih dari VCD2 bajakan di pinggir jalan, warnet2 dengan OS ilegal tapi nyatanya hasilnya nihil, sama sekali UU tersebut tidak menyentuh masyarakat riil, daripada bikin UU baru melulu mending duitnya dipake buat bikin iklan sosialisasi perundang2an yang sudah terlanjur disahkan, jadi rakyat bukan hanya diajak ikut demo pro kontra ngadepin RUU baru tapi masyarakat dibelajarkan agar menjadi warga yang taat dan ngerti hukum, toh tidak selamanya larangan dari UU berakibat buruk, selama ini kita bersikap kontra pada UU karena memikirkan akibat terburuknya saja, hanya berasumsi tanpa pernah membaca UU itu sendiri, sama juga dengan yang pro kadang cuman ikutan teriak pro saja tanpa melihat sejauh mana kesesuaian isi UU tersebut dengan aspirasinya, kita terlalu ribet pada isu2 permukaan yang belum tentu ada, dalam UU bukan pada bagaimana memaksimalkan potensi yang ada untuk tetap bisa eksis namun tetap patuh hukum.

Aku salut pada para pembuat iklan rokok, larangan tidak menampilkan aktifitas orang merokok pada iklan rokok justru membuat kreatifitas advertiser rokok semakin berkembang, lihat saja iklan2 rokok sekarang, meskipun iklan2nya tidak secara langsung mengidentikkan rokok orang bisa tahu oh ini iklan rokok A, yang itu rokok B. Justru iklan Jin Jowo - Jarum 76, Pilihan Gue-nya A-Mild, Ga ada Lu Ga rame - Sampurna Kretek lebih enak ditonton daripada kita melihat iklan orang lagi ngisep rokok trus bilang "mak nyus dab!!!"

Kita boleh memilih untuk bersikap pro/kontra terhadap perundangan yang disahkan tapi sebisa mungkin gunakan energi kita untuk mensiasati UU yang sudah diberlakukan dengan cara2 elegan baik melalui kreatifitas ataupun dengan mengajukan judicial review ke MK daripada berpanas2 ria di perempatan sambil teriak "TIDAK TIDAK TIDAK" toh sampai hari ini banyak UU yang belum bisa diterapkan karena belum ada PPnya

Idealisme Keislaman dalam Bayang - bayang Tradisi

Banyak diantara kita berfikir tentang idealisme, ketika kita berfikir tentang sebuah idealisme maka kita memiliki hasrat untuk mewujudkan nilai2 ideal tersebut, namun adakalanya kita tidak bisa menerima realitas yang ada hanya karena faktor idealisme yang belum terjadi hari ini

Lalu apakah dengan begitu kita dilarang berfikir tentang idealisme tentu tidak kan? yup kita hidup di dunia ini tentu berharap pada awal yang baik, cara yang baik dan goal yang baik, namun dunia ini tidak diciptakan dalam bentuk yang paling ideal, keadilan misalnya adalah sebuah idealisme namun sampai hari ini kita masih belum menemukan bentuk terbaik dari keadilan.

Begitu juga dengan keyakinan, ilmu dan bentuk2 lain yang masih akan terus kita gali kebenarannya sampai tutup usia kita. Setiap orang memiliki kadar resistansi dan tingkat pengetahuan berbeda dalam menyikapi permasalahan dan tolak ukur yang berbeda tersebut hendaknya bisa dijadikan sebuah pedoman dalam bertoleransi dalam kehidupan ini. Sebuah nilai yang baik yang bisa kita laksanakan akan lebih bermakna jika kita istiqomah menjalankannya namun tidak semua orang mampu menjalankannya, baik itu karena keterbatasan pendidikan, pemahaman maupun kesempatan.

Dunia akan selalu menemukan kebenaran2 baru, ilmu2 baru, bagi kita yang berkesempatan dapat ikut merasakannya tentu bisa bersyukur karena kita mendapat kesempatan itu tapi tidak bagi sebagian yang belum menemukannya. Oleh karena itu jika kita meyakini sebuah kebenaran yang tidak orang lain miliki alangkah lebih baik jika kita mensyiarkannya agar lingkungan kita pun mendapat hikmah dari kebenaran2 tersebut.

Dalam sejarah masuknya Islam ke nusantara kita mengenal Islam disebarkan oleh pedagang2 dari Gujarat dan timur tengah pada beberapa abad yang lampau, namun sampai hari ini pun kita menyadari meskipun negara kita adalah pemeluk terbesar Islam di dunia tetap saja secara kualitas keislaman kita masih belum banyak beranjak dari masa2 kesultanan dulu.

Dari pelajaran sejarah di waktu SD dulu, kita tahu Islam masuk ke nusantara disebarkan dengan jalan yang damai, dan mudah diterima masyarakat, berbeda dengan nasrani yang banyak ditentang karena penyebarannya dapat dikatakan bersamaan dengan penjajahan bangsa barat ke Indonesia. Memang benar demikian yang kita pelajari waktu itu tapi kita juga harus melihat ada faktor lain yang mempengaruhi mudahnya Islam diterima di nusantara.

Salah satu faktor tersebut adalah asimilasi dengan kebudayaan lokal nusantara zaman dulu, sebagai tanah yang dikuasai oleh kerajaan2 hindu - budha dan sebagian masyarakat masih menganut animisme dinamisme para penyebar agama Islam dihadapkan dengan objek dakwah yang memiliki resistansi tinggi terhadap sebuah akidah baru. Oleh karena itu asimilasi adalah salah satu cara untuk memudahkan masyarakat menerima sesuatu yang baru.

Aku ambil contoh dalam kisah para wali, Sunan Kalijaga membuat media wayang kulit dan gending2 macapat untuk menarik minat masyarakat belajar agama, Sunan Kudus menggunakan menara Kudus yang bercorak Hindu untuk menarik masyarakat masuk ke dalam masjid. Sedikit2 demi sedikit masyarakat diajari permasalahan muamalah, ibadah dan kemudian tauhid. Penyebaran islam ini menghasilkan Islam abangan yang memeluk Islam namun masih mempertahankan tradisi kebudayaan leluhur mereka, sampai saat ini masih banyak umat Islam di negara ini yang mencampur adukkan kebudayaan musyrik dengan Islam, misalnya dalam perayaan2 kebudayaan yang melibatkan doa2 dari AlQur'an plus jampi2, sesaji yang dipersembahkan pada makhluk halus.

Meskipun para wali tidak pernah mengajarkan untuk mencampuradukan ayat2 quran dengan sesaji bukan tidak mungkin pemahaman masyarakat waktu itu menganggap hal itu bukan hal tabu, dan berkembang menjadi tradisi baru seperti islam kejawen.

Berlanjut ke awal abad 20 ketika KH Hasyim Anshori mendirikan NU sebagai organisasi keagamaan di daerah pedesaan, mungkin untuk beberapa dari kita melihat NU meskipun merupakan organisasi muslim terbesar namun masih kesulitan menghilangkan penyakit TBC dalam kehidupan beragama masyarakatnya. Dalam keseharian warga NU masih mengenal istilah kenduri, peringatan 7 hari, 40 hari, 1000 hari, yang tidak pernah diajarkan Nabi. Hari ini kita masih sibuk mudik lebaran ke rumah orang tua, masih sibuk mencari ketupat dan opor ayam, kita tahu mudik dan ketupat bukan termasuk ajaran Islam hanya merupakan kebudayaan lokal yang menyertai sebuah perayaan Islam, lalu apakah kita juga harus meniadakan hal tersebut karena tidak diajarkan dalam Quran dan hadits?

Tapi marilah kita bersifat arif dalam menghadapi hal2 tersebut, meskipun banyak warga NU yang menjalankan berbagai aktifitas tersebut namun satu hal yang kita dapat simpulkan NU tidak mengajarkan untuk menduakan Tuhan, tidak pernah. Prinsip Allah adalah Tuhan yang Esa masih dipegang teguh NU, NU sudah berjuang melawan tradisi syirik yang masih tertinggal di masyarakatnya ketika itu, masalah apakah berhasil itu soal lain, dan itulah tugas kita sebenarnya, daripada kita melihat ormas Islam lain bersalah karena mentolerir TBC akan lebih baik jika kita mulai menyadarkan masyarakat untuk lebih giat beribadah. Lakukan hal yang bermanfaat untuk memperbaikinya daripada sekedar melemparkan isu yang cuma bisa menimbulkan keresahan bukan kesadaran. Bicara Islam bukan hanya bicara AlQuran, hanya bicara kenabian, bicara Arab dan Palestina, bicara islam juga berarti berbicara kualitas keislaman lingkungan kita, saudara2 kita yang hanya mengenal Islam karena garis keturunan, yang belum bisa membedakan ibadah dan bid'ah, kehidupan ekonomi mereka dengan lingkungan demografi dan sosiologi lokal masing2.

Boleh jadi kenduri merupakan cara untuk mendekatkan masyarakat pada ALQuran daripada nongkrong dipinggir jalan dan bermabuk2an, kita boleh tidak setuju dengan cara tersebut karena tidak diajarkan pada Nabi tapi kita masih bisa melihat manfaat dari cara itu. Masyarakat yang terbiasa melakukan kenduri belum tentu akan ikhlas jika kita melarang mereka melakukan kenduri, yang terjadi justru konflik sektarian bukan solusi permasalahan. Jangan hanya karena kita tidak sependapat maka kita harus menjauhinya, justru disinilah peluang kita untuk memberikan pemahaman kepada mereka dengan cara yang santun dan bersahabat.

Mengingat Islamisasi di negeri ini sebetulnya belum selesai maka tugas kita meneruskan estafet dakwah yang dimulai para wali hingga generasi sebelum kita, tugas dakwah kita lebih mudah dari para pendakwah di awal sejarah karena kita tidak berhadapan dengan umat dakwah yang kontra dengan Islam, tidak berhadapan dengan penguasa yang non muslim dan tidak berhadapan pula dengan penjajahan di negeri kita. Jangan salahkan mereka yang berjuang lebih dulu dari kita, karena objek dan medan dakwah mereka tidak sama dengan kita. Aku yakin cita2 para wali, Kyai Hasyim dan para pendakwah waktu itu adalah menyebarkan islam yang murni, hanya saja dalam usahanya mereka belum berhasil merampungkan cita2nya karena keterbatasan usia, yang pasti mereka sudah menanamkan ajaran keTauhidan dan ilmu2 keIslaman lainnya. Ibarat kata hari ini kita hanya terima jadi dari apa yang sudah diperjuangkan mereka yang hidup lebih dulu dari kita, kita hanya tinggal memolesnya supaya lebih mengkilap, hanya perlu membiasakan masyarakat untuk membedakan mana yang Islami dan mana yang lebih bersifat tradisi, karena sebenarnya masyarakat kita cukup mudah menerima hal baru jika hal tersebut tidak dipertentangkan.

Misalnya, masyarakat kita tidak resistif ketika budaya gaul, keren ala barat karena tidak pernah di pertentangkan secara langsung dengan kebudayaan lokal. Jika kita ingin mengikis tradisi musyrik campur2 yang masih banyak dijumpai dalam tradisi2 kebudayaan misal; sedekah laut, sedekah bumi, tapa bisu, dsb, maka buatlah tradisi yang pure kebudayaan atau yang pure Islam, kalaupun tidak bisa membuat yang ideal yah minimal ada pemilahan dari tradisi sebelumnya misal acara Solo Batik Carnaval, Festival Keraton Nusantara, Tabligh Akbar, dsb. Tapi kita harus mempertahankan tradisi keislaman lokal yang baik seperti mudik lebaran hanya untuk dapat mencium tangan dan memohon maaf pada orang tua kita, Yasinan, yah masing2 dari kita lebih bisa mengukur mana tradisi yang baik dan mana yang buruk, mana yang menghancurkan dan mana yang menguatkan.

Lalu bagaimana jika kita dianggap menghilang2kan tradisi dan jati diri bangsa Indonesia? aku pikir orang2 yang beranggapan begitu bukan orang yang memahami kebudayaan itu sendiri, hanya besar dimulut tapi sepi dalam perbuatan. Kekayaan budaya kita adalah hasil peradaban masa lalu leluhur kita, sehebat apapun kebudayaan kita, harus kita akui kebudayaan itu adalah hasil karya cipta para leluhur bukan kita2 yang hidup saat ini, buatku kebudayaan, kultur dan peradaban selalu datang dan pergi, apakah kita akan menjadi generasi yang hanya bisa mengenang sejarah dan kebudayaan masa lalu atau generasi yang ingin diingat anak cucu kita sebagai generasi kreator yang juga mampu menciptakan kebudayaan yang lebih baik untuk anak cucu kita di masa mendatang? Yang pasti dalam Islam jangan pernah mencampurkan dupa dan doa