Sejarah Disinfektan Dalam Peradaban Manusia

Disinfektan adalah sebutan untuk produk kimia yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme dan kuman penyebab penyakit, seperti bakteri, jamur dan virus. Dimasa pandemi ini disinfektan banyak digunakan dalam bentuk cairan pencuci tangan. Baik yang berupa sabun maupun handsanitizer. 

Bahkan di awal-awal pandemi dan beberapa wilayah menerapkan lockdown, mereka menggunakan disinfektan untuk diguyurkan pada saat kendaraan melewati pos pemeriksaan. Sebenernya hal terakhir ini sangat tidak disarankan, kenapa? Karena kebanyakan disinfektan ini berbahaya.

Sejarah Disinfektan

Penggunaan disinfektan hampir seusia dengan peradaban manusia, penggunaan paling jamak dari disinfektan di masa awal-awal peradaban manusia terjadi di Mesir kuno 4000 tahun sebelum Masehi. Ya, tentu kita tahu bahwa Mesir kuno memiliki teknologi pengawetan mumi yang bahkan bisa bertahan hingga saat ini



Untuk melakukan pengawetan mumi, para pendeta di Mesir kuno menggunakan bahan-bahan disinfektan yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jenazah. Bahan-bahan yang digunakan adalah resin, nafta, minyak sayur, rempah-rempah, termasuk juga masyarakat Mesir kuno mengimpor kapur barus dari Pulau Sumatera untuk mengawetkan mayat.

Di masa Babylonia kuno, masyarakat menggunakan sabun yang terbuat dari rebusan lemak dan abu untuk membersihkan wol dan kapas yang digunakan untuk menutup luka sekitar 2800 tahun sebelum masehi. Masyarakat Mesir kuno mengenal sabun sebagai zat disinfektan yang berasal dari minyak hewan serta garam alkali.

Di periode Yunani Romawi, orang-orang menggunakan anggur, minyak dan cuka untuk melakukan disinfektasi pada manusia yang masih hidup, hal ini tercatat dalam buku kedokteran pada abad ketiga sebelum masehi. Hippokrates (460SM-370SM) mencatat penggunaan disinfektan sebagai perawatan luka agar tidak mudah membusuk.

Saat Eropa masih menggunakan alkohol sebagai minuman penghangat tubuh, dunia islam setingkat lebih maju, di masa Khalifah Harun Alrasyid 850 Masehi, Muhammad Ibnu Zakariya Al Razi menggunakan alkohol pertama kalinya sebagai larutan disinfektan. Kata Alkohol sendiri, berasal dari kata Al-Kuhul, yang berarti disuling. 

sejarah disinfektan penemu alkohol medis muslim al razi



Dalam bahasa arab, Al-kuhl ini juga bisa berarti khamr, wine, minuman yang memabukkan karena mengandung alkohol, dan arti lain adalah ghawl, yang merujuk pada iblis. Karena itulah dalam Islam, alkohol terlarang untuk diminum karena memabukkan dan dianggap perbuatan setan. Sehingga mereka menggunakannya dalam dunia medis sebagai disinfektan.

Pada 1791, Le Blanc dari Prancis menemukan proses kimiawi yang memungkinkan pembuatan sabun dari bahan kimia, sehingga tidak terlalu mengandalkan lemak hewan dan tumbuhan yang berharga mahal. Masa ini disebut sebagai awal pembuatan sabun modern bagi manusia.

Penemuan disinfektan lain yang penting adalah di Glasgow, Skotlandia pada 1861, dimana Joseph Lister meramu bahan kimia carbolic acid sebagai antiesptik guna mengurangi pembusukan kulit yang terjadi sebagai akibat infeksi pasca operasi. 

Disinfektan mampu mengatasi berbagai kasus yang utamanya menggunakan kulit manusia sebagai media penularan, tentu saja, disinfektan ini bukanlah obat dalam, melainkan hanya untuk penggunaan luar seperti mengobati luka, mengeringkan luka, maupun membersihkan badan dari kuman.

Meski Bermanfaat, Disinfektan Juga Berbahaya

Saat ini utamanya selama pandemi covid, penggunaan disinfektan perlu dilakukan dengan hati-hati, ya karena hampir sebagian besar disinfektan yang beredar adalah produk kimia yang cukup berbahaya, tentu kita tidak membayangkan penggunaan baking soda bukan? Bahan kimia ini memang aman tapi jarang digunakan sebagai disinfektan untuk melawan bakteri, virus dengan penyemprotan ruangan.

sejarah disinfektan alkohol



Penggunaan disinfektan yang tidak tepat, dapat menyebabkan tidak hanya masalah kulit, seperti ruam, gatal, iritasi, maupun pembengkakan pada lapisan kulit. Tidak hanya itu, senyawa seperti fumigan yang disemprotkan dapat berbahaya bagi sistem pernapasan manusia. Demikian juga alkohol yang dapat memicu kebakaran. Bagaimana juga, disinfektan ini adalah zat pembunuh, jadi penggunaannya pun harus sangat berhati-hati. 

Oleh karenanya, jika kalian ingin melakukan disinfektasi pada ruangan kerja/kantor setelah rekan kerja terpapar virus corona, sangat disarankan kalian menggunakan jasa semprot disinfektan yang handal seperti Fumida. 

Seluruh teknisi Fumida menggunakan APD yang lengkap dan aman dalam proses penyemprotan disinfektan, bahan yang digunakan pun merupakan chemical disinfektan resmi dan terdafar sehingga lebih aman. 





Posting Komentar

0 Komentar