Posts

Nyampah

Beberapa tahun belakangan ini artikel bermutu di internet terasa begitu mahal, waktu pencarian yang banyak terbuang percuma karena terlalu banyak website maupun blog2 sampah yang dikelola hanya untuk memperbodoh google biar bisa nangkring di peringkat teratas search engine. Beberapa website memberikan link2 sampah yang ternyata berujung pada halaman iklan, ada yang pura2 memandu para pencari artikel untuk membuka satu persatu halaman blog mereka namun diujung pencarian justru ditawarkan menggunakan jasa search engine berbayar yang bahkan jika kita membayar artikel tersebut, ternyata sama sekali tidak ada relevansinya dengan apa yang kita butuhkan, sementara di beberapa blog lain ternyata hanya berisi iklan dengan artikelnya cuma berisi ratusan keyword yang dituliskan dalam 1 halaman tanpa ada satupun link untuk menjebak pengunjung yang mengetik salah satu keyword yang dimaksud.

Isi blog/website ga penting buat mereka, mereka juga ga terlalu peduli apakah cara mereka menjadi seleb di googling mengganggu para netter yang memang bener2 membutuhkan sesuatu yang bermutu dari internet. Yang penting para netter kesasar ke web/blog mereka yang berujung peningkatan traffic.

Aku setuju orang mencari penghasilan tambahan dari internet atau bahkan menjadikan internet lahan penghidupannya. Banyak orang yang berhasil dengan menjadikan jaminan mutu sebagai panglima dalam berbisnis, baik di dunia nyata maupun dunia maya namun demikian, tentu lebih baik jika mereka memang cukup cakap mengatur blog/web mereka menjadi blog yang benar2 bermutu. Karena setiap netter yang mendapati sebuah blog/web bermutu mereka pasti akan berkunjung kembali bahkan secara sukarela menyebarluaskan blog tersebut baik lewat dunia maya maupun dunia nyata.

Yang paling memalukan tentu adalah banyak pemilik web/blog2 sampah tersebut ber KTP Garuda Pancasila, hedewwww apa memang sudah jadi budaya bangsa kita yang doyan nyampah sembarangan? dua dunia sudah penuh dengan sampah produk bangsa kita, dan sudah berimbas pada kondisi lingkungan alam dan internet yang terus memburuk, apa mungkin suatu saat ada warga kita yang kepikiran mau nyampah juga di dunia gaib???

Sok lah sekalian dipatenkan saja sebelum di klaim tetangga sebelah sebagai bangsa tukang nyampah

Wisata Kemiskinan; Wisata Alternatif atau Mempermalukan Bangsa

Apa yang anda bayangkan mendengar kata 'Wisata' ? mungkin pikiran anda langsung tertuju pada tempat2 wisata seperti Bali, Jogja, Dufan, Puncak, atau bahkan jenis2 wisata bahari, agrowisata, wisata arung jeram, panjat tebing, dan lain sebagainya. Slogan Visit Indonesian Year yang didengangdengungkan kementrian Pariwisata beberapa tahun ini mungkin bisa jadi salah satu icon bangkitnya dunia pariwisata di Indonesia. Namun pernahkah terlintas dalam benak anda mengenai daerah kumuh, gubuk2 dibawah jembatan layang atau di pinggir2 sungai??

Yup mungkin aneh dan sangat jauh dari definisi wisata yang selama ini ada dibenak kita semua, namun begitulah adanya sebuah konsep wisata yang ditawarkan sebuah agen wisata di Jakarta Timur sejak Januari 2008, para wisatawan(kebanyakan wisatawan import) diajak berkeliling dan masuk ke daerah2 kumuh dipandu seorang guide yang memandu dan menjelaskan kepada wisatawan mengenai obyek wisatanya, konsep yang terasa begitu kontraproduktif dengan pemikiran kita, pun tak hanya kita, konsep ini memicu sikap kontradiksi pada kalangan pengusaha pariwisata, anggota DPRD sampai pejabat2 kementrian kita.

Hampir semua pihak yang kontra ini menyayangkan eksploitasi kemiskinan untuk dijadikan lahan meraup keuntungan para pengelola jasa tersebut, apalagi kemiskinan sendiri adalah musuh kita bersama sebagai sebuah bangsa, dan ini jelas mempermalukan bangsa kita (terlebih2 para penguasa negeri ini) karena menjadi satu2nya tujuan Wisata Kemiskinan di dunia.

Namun salahkah ide yang dilempar ke dunia pariwisata ini?? bagi saya ya, tapi setidaknya ide ini bukanlah ide sampah yang lantas harus ditutup rapat2 dan kembali menjadi rahasia kita sebagai bangsa, saya melihatnya sebagai sebuah inovasi dari kejenuhan pengelola wisata yang makin kompetitif dan obyek2 wisata yang ada memang "kurang terpelihara" oleh pemerintah kita.

Justru menurut saya ini adalah ide yang harus kita dukung meski konsep penyajian wisatanya diubah, kenapa saya meyebut demikian? karena diakui atau tidak kemiskinan adalah bagian dari diri kita, jangan menjustifikasi ide ini mempermalukan kita sebagai sebuah bangsa, tapi lihatlah peluang peluang yang ada dari ide ini.

Pemerintah kita, parpol2 kita yang sesumbar di masa kampanye terbukti gagal mengentaskan rakyat dari kemiskinan, mungkin mereka akan membantahnya dengan angka2 statistik, tapi ini dunia nyata bung, kemiskinan tidak akan dihapus oleh angka2 statistik, namun kita berpijak pada kondisi realitas yang ada. Berapapun anggaran pemerintah untuk BLT dan pemberdayaan kaum miskin memiliki tingkat efektifitas yang kecil dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Justru dengan adanya ide Wisata Kemiskinan ini kita bisa menemukan banyak manfaat daripada mempermasalahkan rasa malu kita sebagai bangsa, beberapa hal yang saya tangkap dari ide ini adalah

1. Menggugah rasa malu penguasa, benar atau tidak ide ini tetaplah berawal dari sindiran betapa tidak mampunya pemerintah kita mengentaskan kemiskinan, sehingga perlu diberikan semacam teguran pada mereka, karena merekalah yang mengemis2 suara rakyat kecil waktu kampanye.

2. Membantu program pemerintah mengentaskan kemiskinan, ide ini memang mengeksploitasi kemiskinan namun bukan berarti kita tidak bisa memanfaatkannya untuk mengentaskan kemiskinan, pemerintah bisa mendapat devisa dari wisata ini, pengelola jasa bisa mendapat tambahan pemasukan, warga2 pemukiman yang menjadi obyek wisata juga bisa dilibatkan dalam Wisata ini dimana mereka bisa menjadi guide/bahkan menjadikan rumah mereka semacam homestay ala kadarnya bagi wisatawan (saya tertarik pada ide Bedah Rumah yang menitipkan artis di rumah kumuh yang akan dibedah)

3. Menarik investor, tentu saja investor disini adalah para wisatawan itu sendiri, tentu sebagai wisatawan mereka akan mengeluarkan uang ketika berwisata, begitupun di pemukiman kumuh, mereka bisa melakukan transaksi2 ekonomi, bukan tidak mungkin botol2 aqua yang dikumpulkan pemulung justru bisa bernilai mahal dan dijadikan semacam kenang2an oleh wisatawan daripada dikumpulkan di pengepul dengan harga yang tidak manusiawi?

Tapi terlepas dari 3 hal tersebut memang ini adalah sebuah permasalahan yang sangat sensitif, jika memang nanti wisata ini memang diperbolehkan setidaknya memang apa yang dilakukan Ronny Paluan dengan Biro Jasa Pariwisatanya harus diawasi lebih ketat, karena hal semacam ini setidaknya harus melibatkan 3 unsur yaitu pemerintah, pengusaha dan warga2 itu sendiri. Dan perlu juga diberikan batasan2 yang ketat baik mengenai apa2 yang boleh dan tidak boleh, areal wisata, deadline pencapaian perubahan kesejahteraan bagi pemukim yang harus dicapai bersama 3 unsur ini dalam jangka waktu tertentu (Misal dalam jangka waktu 5 tahun dari pencanangan daerah wisata kemiskinan, daerah itu sudah harus ditutup untuk wisata sejenis dan warga disana sudah memiliki tingkat kesejahteraan tertentu; entah diukur dari terpenuhinya kebutuhan primer, sekunder/tersier)

Tapi akankah hal semacam ini terlaksana dan didukung pemerintah???

Mimpi Kali Yee tunggu klo presidennya dah bukan eS Be Yee

*******terinspirasi dari tulisane Ramane********

Catatan Malam Minggu: bersyukur untuk musibah

Semalem lagi asyik2nya maen di tempat temen di telpon bapak, bilang lagi di PKU katanya bapak ma ibu jatuh dari motor, bapak bilang ibu lagi di rontgen, waduh ciloko ki, gek2 parah....

Yo wis akhirnya acara maen di cut n langsung meluncur ke PKU, disana bengang bengong ni RS kok sepinya kayak kuburan? liat di parkiran ga da motor /mobil orang rumah, telpon mas ku ternyata udah pada balik.

Sampe rumah liat bapak ibu jalannya pincang semua, biarpun ga parah tetep aja lah sakit, untung motor juga ga parah cuma lecet dikit, yup alhamdulillah lega rasanya karena semua slamet cederanya juga ga separah yang dibayangkan waktu pertama x ditelpon.

Bersyukur karena diberi musibah yang tidak seberat yang mungkin sedang dialami orang lain. Alhamdulillahhirobbil alamin


harga yang mahal

Pernah merasa klo lingkungan kita berubah, orang2 disekitar kita juga berubah, lain dulu lain sekarang lain lubuk lain ikannya...halah. Pada intinya merasa dunia begitu cepat berjalan yang dulu ingusan cengeng eh sekarang dah cuantik cuantik, yang dulu oon paling urakan sekarang dah punya anak 2, yang dulu ngga lulus SMP sekarang dah merintis usaha...bla bla bla bla...

Kadang ngerasa hanya diri kita yang terlambat berubah, di saat orang lain sudah berjalan ke bulan disini masih sibuk ngurus kuliah, yah aku pikir ini bukan hanya sebatas perasaan tapi sesuatu yang nyata adanya(duh banyak huruf N nya nih mencet keyboardnya kudu keNceng!!)

Kemarin sempet chat dengan temen baru di fb, ngomongin tentang self motivated, ternyata dia bukan seorang yang suka dengan para motivator dunia semacam robert kiyosaki, bapak anak covey, sampai yg lokalan, menurutnya banyak orang membeli buku2/mengikuti workshop para motivator tersebut namun hanya sedikit dari mereka yang berhasil dalam dunianya.

Berapa banyak orang berburu buku pengembangan diri, berapa banyak orang berebut hanya untuk menghadiri seminar para motivator dengan biaya yang tidak murah, namun tidak ada yang mampu menghasilkan hasil maksimal dari perburuan tersebut.

Aku menyadari itu bukan karena kesalahan para motivator itu yang tidak becus mengubah mindset pengagumnya, mereka hanya berbagi kisah tentang dunia dan perjuangan sedangkan konsumennya hanya tertarik pada kata2 manis dan filosofinya saja, yah buat aku lebih mahal harga kemauan kita untuk berubah dan itu tidak pernah bisa terbeli oleh pundi2 materi yang dihasilkan oleh manusia.

catatan minggu ini: Selamat datang kembali

Minggu ini lumayan capek diajakin neng masukin lamaran ke sekolah2 SMP sama SMA, dari yang negeri swasta, yang statusnya terakreditasi A, B, disamakan, tedaftar sampai yang cuman terdengar. Meski dengan adanya peraturan penerimaan di sekolah negeri hanya dari CPNS tetep aja kita nyobain lah namanya juga usaha. Bener juga emang dari pihak sekolah negeri udah ga bisa menerima GTT. pufff

Akhirnya hari kedua kita plot buat cuma mo masuk ke sekolah2 swasta, hmm tapi apa yang terjadi??? ternyata hampir semua sekolah swasta pun belum membutuhkan dengan alasan banyak guru2 mereka kekurangan jam mengajar, apalagi klo bukan karena alasan sertifikasi??

Peraturan pemerintah tentang keharusan para guru PNS untuk memiliki jam minimal mengajar untuk mendapat gaji sertifikasi, dari kasat mata memang bagus untuk mengefektifkan guru benar2 berhak mendapat tunjangan lebih dari profesi mereka. Sayang imbasnya justru menutup terserapnya tenaga pengajar fresh graduate, kenapa??karena guru2 PNS yang kekurangan jam di sekolah negeri akhirnya melakukan ekspansi ke sekolah2 swasta untuk menambah jam mengajar mereka supaya mencapai batas minimal yang diharuskan. Bahkan mereka menawarkan diri untuk mengajar di sekolah swasta tanpa dibayar, jal gimana ga asyik tuh yang jadi kepsek sekolah swasta dapet relawan GTT gratisan????

Simbiosis mutualisme buat mereka yang sudah diatas angin tp tetep aja membunuh ketersediaan lapangan kerja buat pencari kerja yang baru mau masuk dunia kerja. Piye to pak presiden? aparat2mu tuh dah syukur jadi PNS kok ya malah dikasih lahan buat mengekspansi jatah2 GTT dan calon2 GTT