Tuesday, September 7, 2010

Menjadi dewasa

Hari demi hari umur kita berkurang satu demi satu, dari perjalanan yang setahap demi setahap ini kita mulai menemukan dan membentuk apa yang kita sebut pendewasaan baik dari perkembangan secara fisik maupun secara psikis. Teringat sebuah ungkapan "menjadi tua itu pasti menjadi dewasa itu pilihan", tapi terus terang saya sendiri bingung dengan yang dimaksud dewasa seperti apa? benarkah seorang yang dewasa digambarkan orang yang memiliki wawasan luas dan mampu bersikap bijak terhadap sesuatu?

Lalu, kenapa ketika dewasa sebuah perbedaan pendapat sudah cukup untuk membuat orang saling membunuh? atau mendendam begitu lama? bukankah ketika kita masih anak2 kita terbiasa bertengkar hari ini dan bermain bersama lagi di esok hari? seolah perkelahian itu tidak lebih dari permainan yang biasa kita mainkan dan kita tidak pernah menjadikannya alasan untuk membenci orang lain?? Setiap manusia yang belajar membawa pengetahuan awalnya, dan suatu saat akan bertemu sebuah permasalahan baru, mungkin akan mengubah hipotesis dari pengetahuan awalnya, atau justru makin menguatkan pemahaman akan pengetahuan yang dimilikinya? Tapi kenapa setelah beranjak dewasa, kita sulit memaafkan kesalahan orang lain, terlebih jika harus memaafkan kebenaran orang lain??

Jika dunia ini hanya berwarna hitam saja bukankah kita hanya akan melihat gelap saja? Dan jika dunia hanya berwarna putih bukankah mata kita akan buta karena silaunya?? Biarkan dunia berwarna, biarkan kita berbeda, sama tak selamanya indah, dan berbeda tak selamanya menjadi masalah, tapi kenapa begitu sulit bagi saya memadukan dua warna yang berbeda, merah dan biru mengapa tak bisa hidup berdampingan? bukankah mereka lebih dekat dibandingkan air dan api?? Begitu sulitnyakah membuat seseorang berkaca dari sudut pandang kita? atau sebegitu angkuhkah kita sehingga tidak cukup mampu berempati pada cara pandang orang lain?

Setidaknya, beberapa hari ini saya sedang berusaha berbicara pada diri saya, apakah saya telah dewasa? apakah saya cukup mampu memaafkan kebenaran orang lain? apakah saya cukup berbesar hati untuk mengakui kesalahan2 saya? Tapi untuk memilih bagian mana yang seharusnya berisi warna putih dan mana yang harus saya tumpahkan warna hitam, saya masih cukup sulit menerimanya, dan bagi saya ini dilema, karena setiap opsi memiliki resiko yang sama besarnya, merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya, saya hanya ingin memadukannya dan mendapatkan sebuah elegi yang harmonis untuk semuanya, tapi sepertinya elegi itu hanya mampu terlukis di dalam benak saja

Yah mungkin saya masih belum mampu menjadi dewasa, dan masih perlu mencari arti dibalik semua ini
postingan ini serius, suer deh, sedang dalam dilema, dan tak tahu harus gimana hufftttt

Post a Comment