Thursday, June 10, 2010

Suerr.... Ini bukan posting tentang Ariel

Ketika teknologi dan gaya hidup menyerbu kita, kita sering mengalami apa yang disebut temenku teknogrogi, yaitu ketidakmampuan kita mengimbangi perubahan. Ketidak mampuan itu bisa berupa gaptek, atau juga malah kebablasan. Klo beberapa tahun kemaren pulang ke kampung orang disana masih gaptek sama yang namanya Mp3 player, pegang hape blutuk aja gumun, sekarang malah kebalik, jangankan Internetan, FB, blutut, video2 syur bikinan sutradara kampung pun dengan mudah bertebaran via blutut. Heran juga dengan perubahan remaja2 kampung jaman sekarang klo jamanku SMP saja penyakit kulit macem panu, korengen, ketombenan masih jadi trendsetter, anak sekarang justru tampil layaknya artis2 ibukota yang nyasar di kampung. Giliran diajak ngomongin teknologi yang agak teknis sinyalnya langsung ilang, Jan Hueeeebaaattt tenaaannn

Food, Fashion dan Fun, tiga jenis perubahan inilah yang paling banyak terasa dari kehidupan gaul anak muda kita. Dari lebih suka mengkonsumsi junkfud (gapapa makan junk yang penting bahasanya import), style fashion yang uptodate, n terakhir Yang penting happy

Perubahan ini tidak lepas dari pengaruh perkembangan informasi dan komunikasi yang hampir ada di semua lini, dan buat aku aktor utama perkembangan informasi ini masih tetap ada di pertelevisian kita. Meskipun pengguna ponsel, facebook maupun internet semakin hari semakin meningkat namun tidak menggantikan peran televisi sebagai media utama di negeri ini. Forum2 Internet semacam kaskus, maupun situs pemberitaan Detik, Okezone, Vivanews memang menjadi tempat yang sangat dinamis untuk berita2 terhangat tapi cakupan ketersediaan aksesnya belum mampu untuk mengalahkan kemampuan televisi dalam menyebarkan informasi tersebut ke masyarakat yang lebih luas. Banyak perubahan2 sosial di masyarakat kita cenderung mengikuti trend pertelevisian, televisilah yang paling banyak memberikan teladan gaya hidup anak muda sekarang. Tanpa televisi mungkin kita nggak akan ngeh dengan adanya fesbuk, style rambut ala kangen band, atau kenalan sama lagu2 dari band2 antah berantah.

Apalagi acara televisi kita semakin hari semakin jor joran dan mulai tidak mengindahkan etika2 baik etika jurnalistik maupun etika yang berlaku di masyarakat kita. Beragam tayangan dari yang saru, nyebai, njijiki semakin merajalela. Padahal apa yang ada di televisi merupakan patron terbesar bagi pola pikir remaja kita. Klo jaman dulu yang namanya orang mabok, itu kesannya brandal sekarang gaul cuma gara2 ada acara ultah artis di diskotek, klo cowo main sama cewe sampe larut malem itu pamali sekarang klo ga sampe diajak nginep ga asik.

Berita kejahatan semakin hari terasa semakin banyak, kenapa??? Yup betul, bukan karena apa2 tapi karena diberitakan, semakin banyak berita kejahatan yang diberitakan semakin banyak orang menganggap kejahatan adalah hal lumrah, manusiawi. Demo anarkis, semakin hari semakin banyak karena para pendemo menganggap anarkis dalam demo itu lumrah. Banyak anak muda yang lebay karena ngikut tradisi lebayan yang sering diperagakan Tukul, Ruben, Olga sama I.Gun Semakin banyak video mesum ariel peterporn bertebaran kenapa? ya karena diberitakan!!!! Coba kalo minimal inpotaiment dan televisi nggak ikut2an mengangkat tema ini tentu orang yang nyari, ndownload atau sekedar bikin jebakan betmen ngga sebanyak sekarang.

Yang aku heran tuh sama inpotaiment, klo ada artis nyolong, berantem, ngamuk, madat, selingkuh, cere kayake masih tetep aja dialem2, dielus2. ntar klo dah nginjek kaki wartawan aja baru pada heboh "pelanggaran HAM....!!!!".

Bukan berarti televisi tidak boleh memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kejahatan dan penyimpangan sosial tapi setidaknya diaturlah jam tayangnya. Tayangan yang mengandung unsur kekerasan, baik secara visual maupun audio (cuplikan adegan syur, ucapan2 saru Olga, Tukul Cabul, tayangan mistis termasuk) hendaknya ditayangkan diatas jam 11 malam. Bukan seperti sekarang, dimana berita pembunuhan, pemerkosaan dari pagi siang sore malam bisa dilihat anak2 tanpa ada filter.

Jaman mbah Harto saja televisi kita masih bisa sopan kenapa begitu reformasi malah jadi urakan??? Televisi seharusnya memiliki tanggung jawab lebih terhadap pengaruh sosial yang timbul dari tayangan2nya. Namun baik pihak televisi maupun pemerintah terkesan menutup mata dari hal ini. Inisiatif gerakan untuk tidak menonton TV atau meniadakan televisi di rumah memang tindakan efektif namun lebih bersifat perorangan, dan susah dijalankan secara komunal. Setidaknya ada tiga alternatif yang bisa diambil pemerintah untuk mengendalikan sikap masa bodoh pelaku pertelevisian ini tanpa harus melakukan denda yang bisa saja malah dimakan oleh Gayus2 kesiangan

Pertama, Bukan rahasia jika harga iklan di jam prime time adalah yang termahal di televisi, karena rata2 penonton televisi sedang menyaksikan tayangan TV. TV berlomba memasukan acara terbaiknya di jam2 tersebut dan para pemasang iklan rela menggelontorkan lebih banyak uang untuk ikutan mejeng. Pemerintah/KPI bisa menggunakan Sanksi Dilarang Tayang Pada Jam Prime Time (jam 6 - 9 malam) untuk televisi yang melakukan pelanggaran berat pada salah satu produk acaranya (Majang gambar semut bures/jam digital selama 3 jam)

Dua, Penghentian/Pelarangan Acara Bersangkutan dan Sejenis ( Acara 4 mata dengan mudahnya berubah menjadi bukan 4 mata) hanya karena yang dilarang hanya acara bersangkutan. Sebagai gantinya televisi harus menyediakan acara yang bersifat edukatif selama beberapa waktu tertentu di jam yang bersangkutan/menyesuaikan sifat acara

Tiga, Kompensasi Penayangan Iklan Sosialisasi Pemerintah di jam2 Prime Time. Banyak kasus gas meleduk dimana2 karena tidak adanya sosialisasi yang baik dari pemerintah, "bantuan khusus" dari televisi ini bisa digunakan sebagai kompensasi kelalaian ketika televisi melakukan pelanggaran.

Perubahan memang tidak untuk dilawan tapi setidaknya bukan berarti kita ikut jor2an dalam setiap kondisi yang ada, termasuk dalam hal ini kita perlu menertibkan sikap jor2an televisi supaya informasi yang ada bisa disampaikan secara proporsional, tanpa harus mengakibatkan kegaptekan ataupun kebablasan yang ditiru para penontonnya.

Post a Comment