Friday, September 25, 2009

Like Only A Woman Can

"kamu lum pulang ke Jogja?"Tanya Willa
"Ia nih masih kangen tempat ini..."
"kangen apa kangen...."
"hush dah ga usah dibahas"

Willa tersenyum kecil lalu melanjutkan menyapu halaman rumahnya yang tak seberapa luas, beberapa helai dedaunan yang jatuh mulai terkumpul di depan sapu Willa. Masih rumah yang sama, bunga2 yang sama, pohon mangga yang sama, tumpukan batu disudut taman yang membentuk mosaik ala kadarnya... hanya warna rumahnya berganti hijau dan lantainya sudah berkeramik sekarang, mungkin karena kakak Willa sudah sukses merantau di negeri orang.

Aku duduk di bangku depan rumah Willa, mengambil sebatang rokok dan korek api lalu menyulutnya. Kupandangi Willa yang masih sibuk menyapu halaman. Rambut ekor kudanya masih ia pertahankan sampai hari ini rupanya. Ia masih gadis yang sama yang sering kujadikan lahan penulisan halaman buku diary saatku belum mengungsi ke Jogja

"Gak dikasih minum aku Will, tega bener!!!"
"Sabar tunggu sebulan lagi... maklum lama engga hujan disini, kemarau bang"

Heks, dasar ni anak, ngomongnya bisa ngelantur kemana2, tapi gapapa lah biarpun dia berkicau toh dia ga pernah biarin aku mati kehausan dirumahnya. Tinggal nunggu selesai nyapu pasti beres.

Secangkir kopi keluar juga dari dalam rumah, Willa kemudian mengambil duduk di sebelahku.

"Hobbymu itu lho...." kata Willa

Aku cuma cengar cengir disebelahnya....

"Yah Will namanya temen ya gini Will apa adanya, ya apa adanya, iya ga iya ga??"

Ia memandangku sejenak dengan tatapan jengah lalu tersenyum simpul dan mengangguk seperti dulu

********************* Thanks to Willa ************************

Post a Comment