Saturday, January 17, 2009

Menyikapi kematian 3 orang Khulafaur Rasyidin

3 khalif
Kehilangan besar bagi umat Islam sepeninggal Muhammad dengan terbunuhnya 3 Khulafaur Rasyidin mereka berturut - turut, Umar Bin Khatab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib. Dengan demikian praktis hanya Abu Bakar yang meninggal karena faktor usia, selebihnya meninggal dengan cara yang sadis. Umar, Utsman dan Ali adalah 3 sahabat nabi yang utama. Mereka banyak berjuang dan berperang dijalan Allah bersama Nabi, hingga akhir hayatnya kita mengenal mereka sebagai pribadi - pribadi yang mulia.

Jika anda sekalian diperbolehkan memilih saat kematian anda sendiri, pada kondisi seperti apa yang anda inginkan untuk mati?

Umar Bin Khatab adalah seorang saudagar kaya raya yang temperamental, namun setelah memeluk Islam beliau adalah pejuang yang gagah berani, tegas pada setiap peraturan, kehidupan sebagai pedagang sukses tidak membuatnya gelap mata. Bahkan di masa beliau menjadi khalifah kita mengenal betapa miskinnya beliau dibanding umatnya. Seorang khalifah yang setiap malam berjalan diantara rumah - rumah umatnya sekedar untuk memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang terdzolimi dimasa kepemimpinannya.

Sampai pada suatu malam Umar yang sedang berjalan diantara rumah - rumah itu mendengar isak tangis anak kecil yang belum makan beberapa hari, dan ibunya harus berpura - pura memasak batu untuk menenangkan anaknya. Hal yang membuat Umar terenyuh dan akhirnya mengambilkan sendiri karung makanan dari baitul mal, dipikulnya karung itu sendiri olehnya untuk diserahkan pada keluarga itu. Sebuah sikap pemimpin yang hampir tidak kita jumpai di masa ini, tidak seorang presiden pun yang mau memanggul sendiri karung beras ke rumah - rumah kumuh di bantaran sungai, bahkan jangankan bersikap seperti Umar, mereka cenderung mengamankan image dirinya sendiri supaya kelak bisa menjadi presiden periode ke dua.

Utsman Bin Affan adalah sahabat yang berjasa besar dalam pembukuan Al Qur'an di masanya beliau berhasil mengumpulkan mushaf Qur'an yang terdiri dari ribuan ayat, karena jasa beliaulah kita semua masih bisa mempelajari Al Qur'an yang diturunkan Allah kepada Muhammad, beliau telah menjaga hilangnya Qur'an dari perkembangan zaman. beliau adalah seorang pedagang sukses yang menginfakkan semua hartanya di jalan Allah, beliaulah yang membelikan kuda - kuda dan unta - unta untuk kendaraan perang kaum muslimin.

Ali Bin Abi Thalib saudara sepupu sekaligus menantu Rasullulah adalah satu - satunya orang di dunia yang lahir di dalam rumah Allah, Kabbah. Beliaulah pemuda paling berani di kabilah Bani Quraisy. Dan ketika Muhammad diancam akan dibunuh Ali menjadi tameng bagi Rasul karena kecintaannya yang besar terhadap Rasul. Ali dan keluarganya adalah orang - orang yang sabar dan dermawan, pernah 3 hari keluarga ini berpuasa tetapi harus menunda untuk berbuka demi memberi makan fakir miskin yang meminta derma terhadap mereka.

Kebesaran para Khulafaur Rasyidin tentu tidak hanya disini saja, karena kita umat Islam mengerti benar kisah hidup mereka yang selalu mendekatkan diri kepada Allah dan membenarkan berita yang dibawa RasulNya. Tapi disini kita tidak akan membahas semua itu.

Jika kita menganggap kematian mereka adalah peristiwa tragis, maka itu adalah benar, dan kita amat sangat kehilangan. Namun jika ini dikaitkan dengan ketidak sempurnaan sistem Islam saya rasa itu adalah kesalahan besar

Satu hal yang mencengangkan dari 3 Khulafaur Rasyidin setelah Abu Bakar adalah ketiga - tiganya mati terbunuh. Dimanakah sistem Islam yang baik? mengapa sampai membiarkan pemimpin mereka terbunuh? Padahal Risallah Allah baru disahkan hanya dalam beberapa tahun sebelumnya? Jika sistem Islam yang sempurna tidak mampu melindungi para pemimpin mereka dalam hitungan tahun bagaimana mungkin syariat Islam mampu melindungi umatnya yang hidup ribuan tahun sejak zaman Nabi? Jika Islam sudah terbukti adalah syariat yang cacat untuk apa kita pertahankan?

Jika kita menganggap kematian mereka adalah peristiwa tragis, maka itu adalah benar, dan kita amat sangat kehilangan. Namun jika ini dikaitkan dengan ketidak sempurnaan sistem Islam saya rasa itu adalah kesalahan besar. Kita semua akan mati entah karena usia panjang, sakit, kecelakaan, terbunuh, tetapi itu bukanlah sesuatu yang penting dan kita risaukan dan kita pilih. Karena saat salah satunya datang kita tak bisa mengelaknya dan memilih cara yang lain yang kita anggap 'enak' untuk mati. Mati yang cepat dan tidak terasa. Kematian adalah sebuah hal pasti, namun bagaimana kita mati masih akan menjadi rahasia sampai waktunya tiba.

Saya punya sebuah pertanyaan untuk semua yang membaca tulisan ini

Jika anda sekalian diperbolehkan memilih saat kematian anda sendiri, pada kondisi seperti apa yang anda inginkan untuk mati?

Apakah anda ingin mati setelah meraih semua kesuksesan di dunia ini?
Apakah anda siap mati setelah meninggalkan keluarga anda ilmu dan warisan yang cukup?
Apakah anda ingin mati jika salah satu cita - cita tertinggi anda berhasil anda capai?
Apakah anda memilih mati saat bersenang - senang?
Apakah anda ingin menutup mata didampingi orang - orang yang sangat berarti bagi anda?

Mungkin sebagian jawaban anda ada disalah satunya

Tapi saya yakin seyakin - yakinnya, anda semua ingin mati saat berada dipuncak keimanan, saat beribadah, saat dekat dengan Tuhan. Saya yakin dengan amat sangat itulah keinginan yang paling anda inginkan saat meninggalkan dunia ini.

Berapa saudara kita mati karena OD mengkonsumsi narkoba dan miras?
Berapa manusia mati setelah ketahuan mencuri ayam/ merampok bank?
Berapa hidung belang yang mati saat berzina dengan pelacur?
Berapa orang mati bunuh diri karena tidak sanggup menerima cobaan?
Berapa orang yang mati saat memperingati sedekah untuk dewa dewi dan menyekutukan Allah?

Mereka bertiga diangkat derajatnya oleh Allah dengan memberi ketiganya kematian saat mereka benar - benar merindukan Allah, dan saat Allah menyaksikan kebesaran cinta mereka terhadapNya

Bukankah itu saat kematian yang terburuk yang dapat terjadi pada kita? Kita mati saat kita melakukan kehinaan dunia, Allah mengambil nyawa kita sebelum kita sadar untuk menyesali dan bertobat? Siapakah diantara kita ingin mati saat itu? Tentu saja saya sangat ingin menghindarinya, kita semua sangat ingin terhindar dari kematian - kematian semacam itu. Kita ingin mati khusnul Khotimah, mati dalam kondisi terbaik kita, yaitu mati saat kita mencintai dan dicintai Allah.

Umar,Utsman dan Ali memang mati terbunuh, tapi lihatlah saat kematian mereka, Umar tidak sedang berzina dengan pelacur, Utsman tidak sedang mencuri ayam, Ali tidak sedang menyembah berhala, tidak ada satupun dari mereka mati dalam kondisi mabuk, atau over dosis. Tidak sama sekali. Umar dan Ali meninggal saat mengimami umat Islam sholat berjamaah, Utsman gugur saat membaca Al-Qur'an. Mereka bertiga diangkat derajatnya oleh Allah dengan memberi ketiganya kematian saat mereka benar - benar merindukan Allah, dan saat Allah menyaksikan kebesaran cinta mereka terhadapNya. Benar kawan mereka mati dalam kondisi terbaik yang kita semua inginkan, meninggal saat begitu dekat dengan Sang Khalik. Inilah kematian paling utama bagi setiap muslim selain Syahid saat bertempur dijalan Allah.

Kematian mereka adalah kematian terbaik, kematian yang patut kita teladani, Khusnul Khotimah, itulah yang kita semua cari di akhir hidup kita, Khulafaur Rasyidin telah mendapatkannya dan kita mengikhlaskan kematian mereka, mengenang kebesaran hidup mereka hingga keshalihan akhir hidup mereka, Mereka bertiga lahir dalam kondisi terburuk yaitu lahir dalam keadaan bukan muslim dan jahiliyah, tetapi buku kehidupan mereka ditutup dengan keindahan yang tiada tara. Inilah bukti kesempurnaan syariat Islam yang telah membukakan mata kita, karena syariat ini telah menjaga para Khalifah dan ratusan ribu umat Islam lainnya dengan kematian Khusnul Khatimah.

Saya yakin para Khalifah tidak mempermasalahkan cara mereka meninggal tapi justru merasa bersyukur dengan waktu yang diberikan Allah untuk memanggil mereka kembali. Inilah yang harus kita pahami bersama, janganlah kita melihat kapan kita mati, seperti apa cara kita mati, tetapi berusahalah agar saat kematian kita adalah saat terbaik dalam hidup kita dihadapanNya. Bagaimana caranya? yaitu dengan menjaga setiap nafas kita, setiap detik yang kita jalani dengan mengamalkan ajaran Allah. Supaya kita tidak terjebak dalam kesesatan meski sesaat, supaya Allah menyelamatkan kita dari kematian terburuk, supaya setiap saat, setiap detiknya kita selalu siap mati Khusnul Khotimah, Insya Allah , Allah akan mengizinkan kita ingin meninggal saat sedang beribadah dan meninggikan Asma Allah dimuka bumi ini seperti para Khalifah.

Amin Ya Robbal 'Alamin

Post a Comment