Sunday, August 10, 2008

Coba kalian bandingkan

Ada sebuah gang di kampung ku, gang itu tidak terlalu besar.Gang itu kami beri nama gang Islam. Disanalah aku dan keluargaku tinggal. Seperti layaknya di masyarakat lain, gang itu adalah tempat kami bertemu dengan tetangga kami, di ujung gang itu pula kami biasa melaksanakan sholat berjamaah di sebuah mushola kecil. Ada tetangga kami yang dituakan, seorang kyai NU dan kyai Muhammadiyah, ada yang muda dan percaya diri seperti sosok AA Gym, ada pula orang yang sangat tegas dengan aturan yang ada layaknya seorang laskar FPI bernama Ali. Di gang itulah kami berbagi dan berinteraksi dengan semua penghuninya. Setiap perselisihan diantara kami selalu berakhir dengan canda tawa di lorong gang yang sempit itu. Cukup untuk membuat mereka yang lewat di gang ini mengerti betapa kami ini tidaklah beberapa tetangga dalam satu gang, tetapi lebih seperti sanak saudara yang hidup dalam satu atap. Karena gang kami tidak terlalu besar dan banyak rumah berhimpitan di sepanjang gang itu, andai ada seseorang yang melewati gang itu tentu kami yang di dalam rumah bisa mendengar jejak langkah mereka, karena itulah ketua RT kami, yang seorang ulama MUI menerapkan aturan supaya warga ataupun masyarakat sekitar yang hendak masuk ke gang kami hendaknya mematikan sepeda motornya supaya tidak mengganggu kenyamanan warga.
Untuk memberi tahukan warga di luar kompleks gang kami maka kami beri tulisan "MASUK GANG HARAP TURUN DARI KENDARAAN ANDA". Kira2 begitulah, kebetulan ada tetangga baru di tempat kami, tetangga itu cukup muda, namanya Ahmad pada awalnya kami mengira tetangga itu adalah tetangga yang baik, sampai suatu hari dia membeli sebuah motor balap.
Entah karena melihat bahwa semua warga di gang ini sangat toleran dan akrab satu sama lain, maka tanpa malu2 lagi tetangga baru kami itu masuk ke gang dengan motor kesayangannya yang masih menyala, konon bunyi suara motor itu cukup mengagetkan kami, sampai tetangga2 kami keluar rumah untuk melihat siapa yang tidak mematikan motor dalam gang. Hari berikutnya kami lagi2 dikagetkan dengan suara motor yang sama kali ini rupanya knalpot motor tersebut sudah diganti knalpot underbone dan suaranya...bukan main bisingnya.
Akhirnya suatu hari kami bertemu tetangga itu sedang mengelap motornya, kami pun mendekatinya dan memberikan pengertian baik2 supaya dia tidak lagi melakukan hal yang sama untuk seterusnya karena mengganggu penghuni gang yang lain.
Tapi alangkah terkejutnya kami ketika dia mengatakan motor itu motornya sendiri, dan dia berada di rumahnya sendiri, jadi untuk apa dia menuruti keinginan kami??toh masing2 orang memiliki hak untuk melakukan aktifitas di lingkungan kami. Akhirnya kami pulang dengan tangan hampa, dan hanya geleng2 kepala melihatnya ketika keluar masuk gang kami.
Beberapa hari setelah itu saat Ahmad pulang ke rumah, kebetulan berpapasan dengan tetangga kami, Ali yang sedang menuntun motornya hendak membeli perkakas di desa sebelah, melihat Ahmad yang masih menaiki motor kontan Ali meneriakinya supaya turun dari motor, tapi dengan angkuh Ahmad pura2 tidak mendengarnya, sehingga Ali marah dan di tonjoklah si Ahmad, akhirnya terjadi percekcokan di mulut gang, dan tetangga kami pun keluar rumah, pak RT dan para tetua kami berusaha mendamaikan keduanya dengan jalan musyawarah. tetapi karena sikap Ahmad memang mengganggu keamanan warga kami pun menerapkan syarat kepada Ahmad agar meninggalkan kebiasaan tidak mematikan motor di dalam gang. Atau dengan sangat terpaksa tidak di ijinkan masuk ke rumahnya
Pada kondisi ini Ahmad merasa dizolimi oleh warga gang kami dan akhirnya keluar mencari teman2nya mencari dukungan, seperti dugaan kami selanjutnya seorang pendeta dan para aktifis HAM datang ke gang kami dan meminta kami membatalkan tuntutan kami, lebih parah lagi mereka melaporkan Ali ke kantor polisi karena melakukan penganiayaan. Polisi pun tanpa melihat akar permasalahan membawa Ali ke kantor polisi untuk di penjara. Hal ini membuat kami merasa tuntutan kami diabaikan, dan Ahmad tetap seperti dulu masih keluar masuk gang dengan motornya yang bersuara keras
Kini gang kami kehilangan seorang Ali saudara kami, dan masih mengganjal di benak kami bahwa Ahmad sampai saat ini justru lebih berani menggembar-gemborkan suara motornya.


Jika benar gang itu adalah Islam, Suara Motor adalah gangguan terhadap ketentraman Islam, Ali adalah FPI sedangkan Ahmad adalah JAI, lalu siapa sebenarnya yang salah dalam hal ini? FPI kah atau JAI??







Post a Comment