Thursday, April 24, 2008

Aikido

“ Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?” tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu.
“ Sebab, di mana hatimu berada, disitulah hartamu berada”. Begitulah, Paulo Coelho berkisah di salah satu penggalan cerita dalam buku larisnya yang berjudul O Alquimista (The Alchemist). Dalam buku tersebut, penggalan cerita tadi diteruskan oleh sang penulis dalam skenario yang berliku, kisah tersebut berakhir pada pencapaian tertinggi si anak dalam hidupnya, yaitu jiwa dunia, cinta, kesabaran dan kegigihan.



Untuk sebagian orang, penggalan cerita di atas (bisa jadi) hanya angin lalu, tidak bermakna apa-apa, tetapi bagi sebagian yang lain cerita di atas dapat menjadi alasan (pendorong) untuk membuat hidupnya menjadi lebih bermakna.

Meskipun terlihat memaksakan, tapi tidak ada salahnya bila sekelumit kisah di atas kita tarik kedalam kehidupan berlatih Aikido. Di atas matras tempat kita memainkan (mempraktikkan) waza, tempat kita bergumul dan saling menggenggam, sering kali kita memaksakan tenaga dan memutar otak untuk dapat menjatuhkan pasangan berlatih dengan cepat. Salahkah yang demikian? Tidak!, tidak ada yang salah dalam latihan kita. Semua itu bagian dari proses yang harus dilewati seorang Aikidoka.

Tetapi bukan satu hal yang buruk bila kita sedikit demi sedikit merubah kebiasaan “memaksakan” saat kita latihan. Cobalah kita bergerak dengan hati. Cobalah kita ber-waza dengan perasaan (hati). Resapi gerakan yang kita bentuk, resapi tekanan yang kita dapatkan dari uke. Percayalah, hal yang sederhana ini akan membawa akibat yang luar biasa bagi gerakan kita. Ingat! Hati kita, adalah sumber harta yang tidak ternilai bagi diri kita sendiri. Hati kita, adalah refleksi alam yang akan menuntun kita melakukan hal-hal yang awalnya kita anggap mustahil untuk dilakukan.

Belajar untuk merasakan apa yang terjadi dengan diri kita, pasangan (uke / nage), dan tempat latihan kita, tidak hanya akan membawa pengaruh baik pada saat latihan. Lebih dari itu, akan membawa kita menjadi orang yang lebih mapan dalam bertindak dan mengambil keputusan di kehidupan sehari-hari.

Mendengarkan hati (perasaan) tidak akan membuat kita menjadi orang yang lemah, sebaliknya akan membuat kita menjadi orang yang kuat tanpa “menginjak” orang lain dan lingkungan sekitar kita.

Aikido dibangun berlandaskan cinta (hati), tanpa hasrat untuk menyakiti atau melukai siapapun yang ada di depan kita. Aikido mengalir tanpa putus, Aikido menyapa dengan lembut baik lawan maupun kawan.

Gerakan Aikido begitu sederhana dan bersahaja, menuntun si pelakunya dengan gemulai dan mengarahkan kepada kebaikan bagi siapapun yang ada didepannya sekalipun dia berkehendak untuk melukai kita.

Tanpa mendengarkan suara hati, tanpa mengindahkan perasaan, rasanya mustahil kita dapat mempelajari Aikido secara utuh dan menyeluruh.

Aikido, tidak berdiri pada kekuatan fisik. Aikido tidak bersandar pada ketinggian status dan Aikido juga tidak bertopang pada kecerdasan harfiah yang penuh dengan intrik dan ego.

Aikido bertumpu pada keluhuran budi dan ketulusan hati siapapun yang mempelajarinya. Spirit (semangat / hati) menjadi kunci tunggal dalam mempelajari Aikido.

O Sensei (Morihei Ueshiba) pernah berpesan kepada dunia umumnya, dan murid Aikido pada khususnya,

“ Ilmu-ilmu beladiri material tertanam dalam – dalam pada objek – objek fisik. Ilmu beladiri seperti itu adalah sumber pertikaian yang tiada akhir karena ilmu itu berdasarkan pertentangan dua kekuatan. Ilmu beladiri spiritual memandang keadaan pada tahap yang lebih tinggi. Dasarnya adalah “cinta”, dan memandang ke segala hal dengan totalitas mereka. Ilmu ini tidak berbentuk dan tidak pernah mencari musuh ”

Dari kesederhanaan, dari kebersahajaan, mulailah berlatih dengan mendengarkan suara hati, gunakanlah perasaan setiap mengembangkan waza. Kendalikan emosi dan ego. Onegai Shimasu.

dari www.aikido.web.id
Post a Comment